Beranda News Jay, Anak Depok Yang Berjaya Di Silicon Valley

Jay, Anak Depok Yang Berjaya Di Silicon Valley

SAN FRANCISCO, KOMPAS.com – Nama pemuda yang satu ini harusnya akrab di telinga penggiat perusahaan rintisan digital di Indonesia. Jika belum, coba kenali lagi sekali lagi namanya: Andreas “Jay” Senjaya.

Bukan bermaksud untuk menjadikannya pesohor atau motivator, yang rajin tampil di layar kaca. Namun memang dari Jay ada sesuatu yang menarik untuk dipelajari bagi pelaku tech startup Indonesia.

(Untuk tahu kisah awalnya, simak dalam VIK berikut ini: http://vik.kompas.com/indonesiadipuncakdunia/ )

Jay baru saja menyelesaikan sebuah program akselerasi bersama 500 Startups, salah satu akselerator/inkubator ternama asal Silicon Valley. Kontributor Kompas.com, Wicak Hidayat, berkesempatan untuk bertemu langsung dengan Jay di San Francisco, 20 Mei 2016 lalu.

Berikut adalah catatan singkat dari pertemuan tersebut:

Program akselerasi itu diikuti Jay bersama iGrow, perusahaan rintisan digital yang dibangun bersama kawan-kawannya di Depok. Selama sekitar 5 bulan, Jay dan Jim Oklahoma, rekannya di iGrow yang juga berasal dari Depok, berkantor di sebuah co-working space di San Francisco.

Setiap startup di program itu, ujar Jay, akan dipasangkan dengan dua pihak yang terbukti sangat penting.

Pertama, adalah person in charge yang berlaku semacam Bapak Asuh bagi para startup. Satu orang akan menangani sekitar lima startup. Tugas “Bapak Asuh” ini adalah menjadi poros program akselerasi. Mulai dari memompa semangat, menegur hingga membantu fasilitasi berbagai kebutuhan si startup.  

Pihak kedua adalah seorang konsultan pertumbuhan. Semua startup dalam program akselerasi memang fokus pada pertumbuhan dari startupnya, jadi bukan lagi pada pembuatan awal produk.

“Selain mereka, di sini kerap digelar office hour (semacam jam praktek dokter-red.) dengan mendatangkan  ahli bidang maupun entrepreneur yang sudah berpengalaman,” tutur Jay.

Hal pertama yang ditekankan pada semua startup yang mengikuti program akselerasi adalah: tentukan metrik (pengukuran) utama yang paling penting. Setelah itu, semua yang dilakukan peserta program adalah untuk meningkatkan metrik tersebut.

Untuk iGrow, ujar Jay, mereka memilih gross merchandise value (GMV) sebagai tolok ukur utama. GMV adalah tolok ukur yang digunakan peritel online untuk menunjukkan nilai penjualan (dalam mata uang tertentu) untuk produk yang dijual melalui marketplace tertentu selama waktu tertentu.

Lalu, apa hasilnya program akselerasi ini untuk iGrow? Boleh dibilang cukup luar biasa. Selama 5 bulan, iGrow berhasil mencapai GMV yang sama dengan periode 13 bulan sebelumnya. Artinya, apa yang sebelumnya butuh waktu 13 bulan untuk dicapai, di-akselerasi hingga bisa tercapai dalam 5 bulan saja.

Pelajaran penting

Beberapa hal penting dipelajari Jay dalam dari program akselerasi itu. Bukan hanya soal teknis yang terkait iGrow, hal-hal itu tentunya ada dan bisa dibaca di blog pribadi Jay di Senjaya.net. Ada hal lain yang juga patut diketahui umum, terutama untuk perusahaan rintisan asal Indonesia yang ingin mengikuti jejak Jay.

Sumber: http://tekno.kompas.com

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.